Terlepas dari kasus pembunuhan JFK, ada beberapa fenomena yang menjadikan JFK sebagai Presiden AS yang berpengaruh baik di dalam hubungan internasional maupun di dalam sejarah kepemimpinan AS sendiri.
John Fitzgerald Kennedy atau yang dikenal juga dengan JFK adalah seorang Presiden Amerika Serikat (AS) yang cukup dikenal. Salah satunya adalah kebijakan luar negeri JFK yang memfokuskan diri kepada wilayah Amerika Latin dan tentu saja, seperti Presiden AS yang lain pada masa Perang Dingin, perang melawan komunisme. Tetapi yang menjadikan JFK menjadi salah satu Presiden AS yang disorot karena JFK adalah Presiden AS yang menangani krisis pertahanan strategis dengan Kuba pada masa Perang Dingin yang sudah dimulai sejak masa pemerintahan-pemerintahan sebelumnya dan berhasil menyelesaikan Krisis Misil Kuba yang sempat di indikasikan dapat memicu Perang Nuklir (Nuke War) pada era Perang Dingin.
Kerangka Pemikiran
Salah satu teori kebijakan luar negeri yang ada di dalam Hubungan Internasional adalah teori kebijakan luar negeri yang dimiliki oleh James N. Rosenau. Rosenau berpendapat setidaknya ada beberapa aspek yang diperhatikan dalam menentukan kebijakan luar negeri. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah sistem politik, sistem pemerintahan, situasi dalam negeri, dan kondisi politik global. Tetapi menurut Rosenau juga, ada satu aspek lagi yang perlu diperhatikan yaitu Idiosyncratic, atau yang disebut juga dengan gaya kepemimpinan. Rosenau berpendapat, gaya kepemimpinan dipengaruhi oleh ideologi pemimpin, pengalaman serta pendidikan pemimpin itu sebelum menjadi pemimpin.
Konsep geopolitik merupakan konsep yang melihat hubungan antara kondisi bumi (wilayah), institusi politik dan kebijakan dari sebuah negara. Geopolitik adalah sebuah studi geografi yang dikaitkan dengan kondisi kebijakan luar negeri sebuah negara dan fenomena politik. Seperti dikatakan Rudolf Kjellen, seorang ahli geografi dari Swedia, bahwa “kekuatan sebuah negara bergantung pada wilayahnya, sungai, jalanan, bahan mentah dan makanan dan termasuk penduduknya, pemerintahnya, ekonominya dan budayanya”.
Menurut Robert Jervis, teori deterrence atau penangkalan adalah sebuah teori yang muncul pada masa Perang Dingin dan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi pada masa tersebut. Di dalam teori ini, aktor berupaya untuk menigkatkan kemampuan dan kekuatannya untuk menangkal serangan dari lawan, atau setidaknya menekan dan memaksa lawan untuk berpikir kembali untuk melakukan serangan. Teori penangkalan dimanifestasikan kedalam sebuah strategi militer yang juga bertujuan untuk menangkal serangan negara lain atau pihak musuh dengan meningkatkan kemampuan militer baik fisik seperti alat utama sistem pertahanan (alutsista) maupun non fisik seperti doktrin militer dengan tujuan agar pihak lawan sadar akan resiko yang mereka hadapi apabila melakukan serangan.
Pembahasan
Secara domestik, JFK menfokuskan dirinya untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan hak-hak sipil dan juga peningkatan ekonomi dengan reformasi pajak. Selain itu JFK juga terkenal ambisius dalam memberikan janji untuk mengeluarkan dana untuk pendidikan dan untuk orang tua. Sedangkan di dalam politik luar negerinya, JFK mengembangkan dari kebijakan “Do not supply those armies of countries that plan to do us harm, do not give weapons to the Communists, do not supply bombs to the middle east.”
Dalam kebijakan politik luar negeri, JFK sempat meneruskan beberapa kebijakan luar negeri dari pemimpin sebelumnya, Eisenhower. Dengan masukan-masukan dari kelompok administratif Eisenhower, JFK terpengaruh dan akhirnya melaksanakan dan mengeluarkan perintah untuk pelaksanaan rencana menjatuhkan Rezim Fidel Castro di Kuba. Secara geopolitik, Kuba adalah negara yang sangat strategis baik bagi Uni Sovyet, maupun AS sendiri apabila bisa menjatuhkan rezim Komunis di Kuba.
Pertimbangan agar tidak ada terjadinya serangan dari Kuba, JFK melakukan tindakan preemptive dengan melaksanakan rencana menjatuhkan Rezim Komunis di Kuba yang ditawarkan kelompok administratif Eisenhower. Adapun kebijakan dengan mempersenjatai 1500 orang kelompok insurgensi anti-revolusi dan berusaha mengambil alih kekuasaan yang dikirim ke ke Kuba pada tanggal 17 April 1961, berhasil ditangkap atau terbunuh pada tanggal 19 April 1961. Kegagalan operasi yang bernama Operation Moongose atau dikenal dengan Bay of Pigs Invasion tersebut disebabkan karena kurangnya koordinasi di kalangan pemimpin militer, sehingga serangan tersebut hancur karena pasukan artileri yang terorganisir. Jika JFK berhasil mengkoordinir agar terjadinya dialog antara pemimpin militer dan mengerahkan angkatan laut untuk membantu serangan, maka hasilnya akan berbeda.
Dengan gagalnya serangan pada tahun 1961, pada tahun 1962, JFK mengeluarkan kebijakan embargo ekonomi kepada Kuba. Selain itu kongres juga menimpalinya dengan mengeluarkan resolusi untuk pemberian izin penggunaan kekuatan militer di Kuba jika semisalnya kepentingan AS diganggu. Selain itu banyak aksi-aksi latihan militer yang dilakukan oleh AS di kawasan Karibia. Hal itu terang membuat Kuba merasa terancam
Konflik-konflik AS dengan Kuba yang diperburuk dengan berbagai aksi AS tersebut, akhirnya menarik Uni Sovyet untuk turut campur dan mengambil keuntungan dari konflik ideologi dan kawasan dari AS dan Kuba. Selain itu Uni Sovyet juga memiliki kepentingan dengan Kuba yang merupakan sekutu yang berideologi sama dan kawasan yang strategis. Selain itu Uni Sovyet juga merasa bahwa pembuatan dan peletakan IRBM milik AS di Turki. Walaupun beberapa ahli berpendapat bahwa itu bukanlah penyebab bantuan Uni Sovyet ke Kuba dengan memberikan misil-misil berhulu ledak nuklir
Aksi Uni Sovyet tersebut ditanggapi oleh JFK dengan cepat dengan melakukan karantina perairan Kuba dan berusaha mengancam pihak Kuba dan Uni Sovyet yang terlihat di dalam pidatonya pada 22 Oktober 1962 :
“It shall be the policy of this nation to regard any nuclear missile launched from Cuba against any nation in the Western Hemisphere as an attack on the United States, requiring a full retaliatory response upon the Soviet Union.”
Ketegasan pernyataan JFK tersebut juga diikuti persiapan serangan udara berkekuatan penuh jika pihak Uni Sovyet tidak mau menanggalkan misil nuklirnya. Diskusi dengan Dewan Militer AS, JFK menekan mereka untuk mencoba jalan damai. Setelah lama munculnya konfrontasi Barat dan Timur tersebut akhirnya berhasil diakhiri dengan tidak mencapai kejadian yang ditakutkan oleh dunia, perang nuklir. Negosiasi yang alot tersebut diakhiri dengan perjanjian rahasia pelucutan misil AS di perbatasan Uni Sovyet dan pelucutan misil milik Uni Sovyet di Kuba. Konflik ini dikenal dengan nama October Crisis atau Cuban Missile Crisis.
Penutup
JFK sebagai seorang individu, adalah seorang yang dapat belajar dari pengalaman. Pada masa awal kepemimpinannya, ia masih mudah dipengaruhi pihak lain dalam membuat kebijakan luar negeri. Tapi setelah mengalami kegagalan dalam kebijakan yang ia keluarkan sebelumnya, ia berusaha lebih berhati-hati dalam bertindak kedepannya.
DAFTAR BACAAN
Perwita, Anak Agung Banyu, Dr. Dkk. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. 2005. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Rusdiyanta. Makna Kebijakan Luar Negeri As Di Asia Tengah. pp 7
Jervis, Robert. Perception and Misperception in International Politics. 1976.
http://en.wikipedia.org/wiki/John_f_kennedy
http://en.wikipedia.org/wiki/Bay_of_Pigs_Invasion
Kennedy, John F. (October 22, 1962), Speech on the Cuban Missile Crisis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar